Rabu, 09 Mei 2018

Mencuci wadah bekas adonan sabun home made

Jadi ceritanya kemarin sore, saya dan si kakak praktek membuat sabun mandi sendiri. Tutorial buat sabun ya nyusul aja ya teman....lagi pula resep sabun dan tutorialnya sudah bertebaran di mana mana, cukup tanya si uncle google aja.

Hal yang harus diperhatikan kemarin, adalah saat melarutkan caustic soda alias NaOH ke dalam air. Karena tidak mau mengorbankan banyak wadah plastik, saya pakai botol bekas air mineral untuk buat larutan NaOH, pikir saya karena botol ini panjang dan dalam pasti aman. 
Jadi setelah NaOH dimasukan dalam botol berisi air dan saya goyang2 (serasa lagi bikin larutan menggunakan labu ukur), seperti biasa pasti suhu naik. Dan....yang saya tidak duga adalah botol bekas itu mulai mleyot2 karena kepanasan. Haaaa.....

Jadi terpaksa deh ganti wadah, dan mesti sabar. Kenapa harus sabar?
Setelah saya hitung jumlah bahan yang akan saya gunakan dengan lye calculator, saya dapat jumlah liquid yang harus digunakan adalah 100 gram. 
Tadinya 40 gramnya berupa air yang akan saya pakai untuk melarutkan lye dan sisanya saya dapatkan dari gel lidah buaya.
Ternyata larutan mulai jenuh dan sulit sekali melarutkan flake NaOH yang tersisa meski sudah di aduk lama sampai pegel...akhirnya air di tambah dan jumlah gel lidah buaya dikurangi 10 gram. Masalah terselesaikan.

Langkah-langkah selanjutnya lancar2 saja meski di selingi adegan rebutan mau ngaduk adonan. Si kakak kekeuh pegang spatula sambil berlaga jadi youtuber yang lagi buat video tutorial. Semoga tercapai ya kak cita2nya He..He...

Nah Maslah lain muncul ketika saya mau mencuci wadah bekas membuat adonan. Kebetulan wastafel penuh cucian piring (eaaaa ketawan males ya), saya agak riskan bergerak takut kesenggol wadah kena bekas NaOH. Akhirnya ambil cuka, tuang sedikit setelah wadah di bilas.

Masih nggak yakin juga, akhirnya saya ambil bunga Torenia di halaman rumah.
Buat apa? Buat bikin indikator alami, untuk mengetahui sifat larutan asam atau basa atau netral.

Caranya:
cukup ambil 3 bunga Torenia masukkan ke wadah (saya pakai cup agar) tambah air lalu di haluskan (alias di krues krues pakai tangan aja).
Lalu larutan Torenia saya bagi ke empat wadah.
Wadah 1: hanya larutan indikator saja
Wadah 2: larutan indikator + sedikit sabun mandi yang biasa di pakai di rumah warnanya putih (larutan basa)
Wadah 3: larutan indikator + air rendaman wadah bekas membuat sabun
Wadah 4: larutan indikator + cuka

Dan taraaaaaa....ini hasilnya








Jadi kesimpulannya warna Torenia
Dalam air ungu
Dalam Basa biru
Dalam asam bening pink

Warna larutan rendaman ungu menuju bening artinya biasanya sudah dinetralkan oleh asam cuka, malah larutan tersebut cenderung asam karena warna larutannya cenderung bening. Berarti si wadah aman untuk bersentuhan dengan kulit.

Mari cuci piring....
"Walah Bu..Bu...mau cuci piring aja ribet banget"
"Biarin duooong yang penting saya seneng, bisa kasih lihat sikakak ungu campur kekuningan itu bisa jadi bening, padahal bukan sulap bukan sihir, cuma cuka apel tambah Torenia aja"

Nanti setelah sabun jadi, saya akan menulis review nya ya guys (gaya youtuber nya kakak)


Minggu, 08 April 2018

Camping Keluarga (lagi) di Mandalawangi

Sebenarnya ini sudah pengalaman berkemah yang kesekian kalinya, hanya saja yang kemarin2 nggak sempat di tulis di blog.

Sebelumnya saya, suami, dan si kakak pernah camping hanya bertiga di Mandalawangi Cibodas. Pengalaman awal ini meninggalkan kesan baik yang membuat saya kangen ingin balik lagi kesini.

Puji Tuhan keinginan itu bisa terwujud juga. Awal April 2018 kami berenam bisa berangkat ke Mandalawangi.

Awalnya kakak ipar, kelihatan keberatan dengan tujuan camping yang saya usulkan. Maklum, sebelumnya kami punya pengalaman kurang enak saat saya ajak mereka camping di Sukamantri.
Waktu berkemah di Sukamantri, kami datang saat camping ground sudah penuh oleh siswa2 SMU juga TNI. Alhasil kita kebagian tempat nyempil seupil. Belum lagi salah belok saat perjalanan menuju camping ground tersebut, membuat kami harus lewat jalan berbatu yang jaraknya 2-3 kali lebih jauh dari jalan berbatu rute normalnya.

Si kakak ipar maunya camping ke Bandung lagi. Dalam pikiran saya langsung terbayang perjalanan panjang dan lammmmaaaa dan pegaaal dan lelaaaaah.
Akhirnya diputuskan kalau mereka ke Bandung kami tidak ikut, kami akan tetap berkemah ke Mandalawangi lagi. Akhirnya seperti di awal tadi mereka mengalah, dan kami berenam pergi juga kesana.

Kami berangkat dari Depok hari Minggu siang, sekitar jam 12.00 kami masuk pintu tol Cibinong. Perjalanan lancar jaya karena boleh dibilang minim sekali kendaraan menuju ke puncak. Kebetulan memang 4 hari sebelumnya ada berita yang menyebutkan kalau jalan dari gunung mas sampai Ciloto ditutup karena longsor. Namun pak suami sudah browsing kata beliau hari ini jalanan sudah dibuka khusus untuk kendaraan kecil.
Syukurlah ternyata memang sudah bisa dilalui meski dengan perasaan dag dig dug karena jalanan menyempit di beri pembatas beton.

Kami tiba di Mandalawangi sekitar jam 1 lewat disambut hujan dan perut keroncongan. Banyak orang yang baru keluar dari camping ground. Saya bilang pada pak Suami agar menunggu sebentar sampai hujan reda juga supaya semakin banyak yang pulang agar kami lebih bebas memilih lokasi kalau sudah sepi.

Sekitar jam 14.00 kami masuk dengan memakai jas hujan kresek yang kami beli di parkiran. Kalau di Depok jas hujan seperti ini harganya hanya 10rb tapi disini jadi 15rb. Yah namanya juga tempat wisata ya kebanyakan barang2 jadi mahal.

Minta bantuan poter untuk mengangkat barang bawaan, biasa kalau camping sama keluarga kan seperti pindahan.
Pak Suami lagi2 memilih blok damar.
Ditemani rintik hujan kami segera memasang tenda dan fly sheet.

Tenda kami berhadapan, kakak saya pakai Consina saya pakai great outdoor.


Setiap orang punya cara berbeda dalam memilih liburan. Beberapa teman sering mempertanyakan kenyamanan kami menghabiskan waktu liburan dengan berkemah. 'Ah gue dah sering camping jaman sekolah dan kuliah dah bosen sengsara' itu salah satu komentar yang kerap saya dengar. Sengsara camping saat muda normal alias lumrah, tapi kalau camping bareng keluarga dengan anak kecil dan balita ya jangan sengsara...
Makanya jangan heran bawaannya segambreng kaya orang pindahan, kalau ada yang bilang repot....ya tergantung mind setnya ya...(eaaaa.....mind set cuy).

Supaya anak nyaman saya bawa sleeping bag, kasur angin, dan bawa pompa juga (jaman sekarang pompa kan ringan jadi nggak perlu takut).
Makanan hari pertama kami beli dari warung nasi Padang Cibinong (bekelnya tetep beli), hari kedua kami buat sop bakso, telur kornet, pisang goreng (bawa pisang dari rumah) dan roti untuk camilan, jangan lupa teh juga kopi. Hari ketiga (Selasa) kami sarapan mie beres2 tenda lalu makan siang nasi goreng di warung sebelah tenda. Nggak sengsara kan....malah nikmaaaat sekali bisa makan bareng di udara terbuka.

Kalau orang camping senangnya ngobrol2 di malam hari, saya sih pengennya juga gitu, tapi mata ini nggak pernah bisa diajak kompromi, sebelum jam 9 malam pasti saya sudah terlelap, waduh penyakit banget deh.

Pengalaman pagi yang paling berkesan adalah nyanyian burung bersama munculnya sinar matahari pagi, nah ini momen favorit saya. Segera buka tenda dan rasakan sejuknya udara pegunungan.

Selanjutnya eksplor lingkungan sekitar banyak yang cantik cantik bisa dilihat disini. Bolak balik bersyukur dapat anugrah luar biasa bisa merasakan keindahan alam ciptaanNya.





Kalau si kakak fio paling suka main di sungai


Kata ibu pemilik warung, jam 11 malam biasanya sungai ramai karena banyak penduduk sekitar yang mancing lobster.....wow informasi baru.

Kalau pak suami senangnya tiduran di hamock, ngopi dan ngobrol di warung sama Abah.

Next time, mari pasang tenda di pinggir sungai untuk mancing lobster air tawar

Sabtu, 07 April 2018

Camping bareng Keluarga

Lupa bermula dari mana saya mendapatkan informasi tentang camping untuk keluarga, yang jelas sebelum rencana camping bareng keluarga terwujud saya sering browsing sana sini tentang manfaat dan tempat2 untuk camping. Setelah itu disosialisasikan ke suami, kakak,dan grup keluarga besar.

Sempat menunggu sekitar 2 tahun (wew sampai jamuran) biasa karena jadwal susah banget sinkron antara satu dengan lainnya.

Akhirnya 11 Agustus 2017 kami ada 4 keluarga berangkat juga ke Ranca Upas di Bandung Selatan. Dari Depok berangkat jam 10an malam, bisa dibayangin ngantuk luar biasa berusaha tetap terjaga menemani pak Suami nyetir.  Menurut Google Map waktu perjalanan 5 jam tapi kenyataannya kami butuh waktu sekitar 6 jam. Maklum rute baru, apalagi begitu sudah dekat, suasana gelap sekali belum lagi jalanan yang menanjak bikin pak Suami harus hati2.

Dan pengalaman pertama camping ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.
Menurut perhitungan awal kami akan berangkat setelah magrib sampai sana diperkirakan tengah malam, karena khawatir tidak ada penyewaan tenda di tengah malam, akhirnya kami sepakat sewa tenda dari Depok.
Begitu sampai sana, angin dan udara dingin (serius dingin) langsung menyambut kedatangan kami, segera bongkar2 tenda sewaan. Tidak lama tenda berdiri pasang matras dan kasur Palembang (niat banget kaya orang lagi ngungsi), semua langsung masuk ke tendanya masing2.
Si Akong ketawa-ketawa katanya "tidur di rumah enak2 ini kok malah tidur kaya di mainan anak-anak". Ah Akong sabar dulu mungkin setelah ini Akong akan menemukan sesuatu yang berkesan.

Baru masuk tenda sebentar dan.......matahari terbit eaaaa, masih belum capek hilangnya.

Pagi hari baru terlihat jelas banyak sekali tenda yang sudah berdiri, dan sampai sore hari saya perhatikan masih banyak sekali orang datang untuk camping bareng keluarga. Sempat heran ternyata peminat camping keluarga banyak sekali ya....Ternyata oh ternyata jadwal kami camping berbarengan dengan jadwal camping K3I (Komunitas Kemah Keluarga Indonesia)

Bisa dibayangin dong kelompok berpengalaman dan kami 4 keluarga yang baru pertama kali camping. Mereka rata2 pasang tenda ukuran besar dengan tambahan fly sheet. Sementara tenda kami bener2 kaya tenda mainan anak, cuma single layer warna warni dengan ukuran standar  untuk 3 keluarga dan ukuran kecil untuk keluarga saya T.T   Kenapa keluarga saya dapet ukuran yang  berbeda? Jadi ceritanya begitu ada rencana mau camping, seorang sepupu suami meminjamkan tenda. Waktu di coba di ruang tamu si tenda kelihatan besar, begitu di pasang di lapangan OMG imut banget. Alhasil saya suami dan kakak umpek2an di dalam tenda.
Terus apalagi perbedaannya? Persiapan makanan. Kok tau, ya iyalah kan kami tetanggaan dengan mereka, toples2 Tupperware aneka warna dan aneka isi (sebenernya penasaran banget pengen tau isinya biar lain kali kalau camping bisa nyontek cara mereka) lengkap dengan meja makan lipatnya.
Pastinya persiapan yang lengkap itu tentu saja bertujuan agar anak2 nyaman. Kemah sengsara cukup untuk bapak sama ibu aja jaman muda, kalau bareng anak2 tujuannya kan lebih ke tamasya keluarga dan mengenal alam, jadi kesejahteraan anak harus tetap terjaga. Setuju ibu ibu ya....
Untuk persiapan makan, kami membawa  lumayan banyak, setiap keluarga kalau bawa makanan hitungannya dikali 4, jadi boleh dibilang persiapan makanan berlebih. Ini juga nggak baik siy karena kurang komunikasi jadi bawaannya tambah ribet tapi nggak kepakai. Tapi seperti emak2 yang sayang anak pasti mikirnya 'daripada kurang'

Kegiatan apa saja yang bisa dilakukan disana? Kayaknya kalau browsing sana sini sudah jelas banget, saya hanya ingin menambahkan dengan camping bareng, waktu ngobrol bareng keluarga jauuuuuuuuuh lebih panjang. Dan kita makan bareng terus ๐Ÿ˜
Satu hal yang perlu diperhatikan kalau ke Ranca Upas adalah hawa dinginnya, kalau nggak kuat dingin seperti saya sebaiknya siang hari pakai kaos lengan panjang, jadi meski matahari terik tapi anginnya kencang dan dingin. Dan jangan lupa untuk ibu ibu yang suka masuk angin bawa koyo ya...tempel dipusat biar perut nggak kembung ☺

Berikut beberapa fotonya






Minggu, 30 April 2017

Berburu Perlengkapan Hidroponik

Sebenarnya saya sudah lama tertarik menanam dengan metode hidroponik, tapi sayang disayang nggak kuat modalnya :(
Akhirnya saya lupakan saja keinginan itu, sampai saya lihat teman di FB yang bolak balik ngepost foto panen sayuran hidroponik. Akhirnya keinginan lama bersemi kembali, mulai browsing2 lagi, ternyata eh ternyata sekarang info hidroponik makin banyak, dan nutrisinya sudah ada kemasan kecil, lalu ada banyak pilihan toko online yang menjual perlengkapan tempur hidroponik.

Pertama yang saya cari nutrisi ab mix dan Rockwool, cukup buka Tokopedia atau shopee, short termurah pilih2 deh... Sekalian beli benihnya. Rockwoolnya saya beli 1/4 slab (Rp 20rb), ab mix kecil (Rp 20rb), benih salada, kangkung, bayam, pak choy (@9500) di bamboo hidroponik Tokopedia.

Kemudian browsing tds meter, karena biasanya di toko hidroponik tds meternya mahal sangat, mengingat prinsip ekonomi dan iklan yang selalu terngiang di pikiran 'kalau ada yang murah kenapa beli yang mahal'  padahal sadar diri ada rupa ada harga, tetep kekeuh cari yang murah.
Sempet heran  gambar yang sama ada yang harganya murah bingit dan ada yang selangit, mungkin yang selangit asli terus yang murah kw, entahlah...yang jelas saya beli yang murah aja Rp 39.000 sebenarnya ada yang Rp 36.000 tapi kosong :p


Awalnya pengen banget beli starter kit, tapi kok mahal bingit. Menurut saya kelebihan starter kit itu karena bak hidroponik nya sudah siap tinggal pakai saja, yang lainnya sama aja. Akhirnya dicancel mau cari alternatif bak lainnya.

Pernah nyoba pakai botol mineral bekas, tapi nggak pinter nyusunnya terus tanamannya juga 'hidup segan mati tak mau' jadi bukannya jadi hiburan malah jadi puyeng sana sini berantakan.

Kalau baca2 di grup bisa pakai Styrofoam Box bekas anggur, bisa juga pakai jirigen kebetulan pabrik si papa jual murah, tapi kalau baca suhu larutan juga mempengaruhi kesejahteraan tanaman sepertinya mending box styrofoam saja. Kalau ngintip2 toko styrofoam online, ternyata harganya lumayan juga.

Akhirnya minta ditemani si papa cari box styrofoam, toko buah pertama boro2 dikasih dirayu untuk dibayarin aja nggak mau, toko buah kedua ternyata sama juga. Keesokan harinya ke toko buah ketiga, awalnya juga enggan, terus belanja dulu lah kita, eh si abangnya tanya 'buat apa bu?' saya jawab dengan ragu 'buat nanem bang' eh karena kasian kali ya denger suara saya yang lirih2 nggak yakin #memelas#  dia cariin tuh box dapat deh 4 yippie...


Sepanjang jalan pulang senyum, sampai rumah
'Papa ini proyek kita bersama ya, kita ngerjainnya sama-sama'
Si bapak senyum-senyum, 'iya tenang aja nanti papa bantu melubangi styrofoam nya'
Ah tau saja dia istrinya bingung mau bolongin boxnya.

Selanjutnya mulai prakteknya aja, semoga nggak 'anget-anget t** ayam'  seperti proyek2 sebelumnya.


Selasa, 29 November 2016

Pizza Maker #part 2 ๐Ÿ•

OK.... Akhirnya saya tidak sabar untuk membuat pizza yang ke-3 kalinya,  apalagi si kakak yang punya kebiasaan susah makan tiba-tiba nagih minta dibuatkan pizza lagi, jarang-jarang pakai banget deh si kakak minta dibuatin makanan.

Lalu saya teringat satu blog favorite saya yang resep mpek2 dos nya pernah saya coba dan sukses berat.  Nama blognya justtryandtaste,  silakan dicari sendiri ya...

Resepnya siy tidak plek sama, sedikit diubah sesuai perasaan ๐Ÿ˜€ #eeeaaa kepedean

๐Ÿ•Resep doughnya๐Ÿ•
500 g terigu protein tinggi
1,5 sdt ragi
1 sdt garam
2 sdm gula pasir
5 sdm minyak zaitun
Air es (tidak sampai 400 ML)

⏳cara membuat⏳

  1. Campur terigu dengan ragi lalu aduk dengan sendok, tambahkan bahan2 lain kecuali air aduk
  2. Tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga kalis
  3. Diamkan 45 menit



Setelah itu adonan di bagi 3, masukkan ke dalam plastik ukuran 1 yg yang sudah di basahi minyak zaitun. Lalu simpan dalam kulkas.  Kata penulis blog justtryandtaste  maksimal disimpan di kulkas sampai 3 hari.  Tujuannya apa?  Entahlah ๐Ÿ˜‚ tapi yang jelas setelah setengah hari di kulkas,  roti yang di hasilkan lebih lembut.

๐Ÿ•Resep saos ๐Ÿ•
250 g daging sapi giling
2 buah tomat potong2 kecil
2 buah bawang putih cincang halus
1 buah bawang Bombay potong2 kecil
Garam gula oregano secukupnya
5 sdm saos tomat (tergantung selera) 

⏳Cara membuat ⏳
  1.  Oseng bawang putih
  2. Masukan tomat lalu aduk sampai setengah layu
  3. Masukan daging dan bawang Bombay bersamaan (karena ingin bawang Bombay yang masih terasa kres kres)
  4. Tambahkan saos tomat
  5. Bumbui dengan oregano,  garam,  gula


๐ŸŒผPenyelesaian ๐ŸŒผ
  1. Taburi permukaan loyang dengan sedikit terigu,  keluarkan adonan pizza dari kulkas,  lalu tipiskan dengan cara di tekan-tekan menggunakan tangan (pakai gilingan agak ulet)
  2. Tusuk-tusuk adonan dengan menggunakan garpu
  3. Oles permukaan adonan dengan saos tomat
  4. Berikan saos daging
  5. Hias dengan toping (saya pakai sosis yang diiris tipis) 
  6. Berikan taburan keju melted (mozarela) 
  7. Panggang 45 menit dengan suhu 220 derajat celsius (sesuai kondisi oven) 

 si pak suami bikin versi pedas,  saos tomat diganti saos sambal.


Mohon maaf hasil matangnya tidak sempat di foto karena keseruan makan bareng jadi lupa. Tapi pizza kali ini boleh di bilang rasanya mantap,  mungkin karena bumbu oreganonya sudah dipakai. Oregano saya beli di giant dengan harga 12.600 rupiah. 

Semoga nanti kalau buat lagi saya bisa melengkapi foto-fotonya. 
Ayo yang mau buat jangan ragu-ragu. Menurut saya lebih mudah dan lebih murah dari membuat spageti. 


๐Ÿ•Pizza Maker ๐Ÿ•

Ha.. Ha... Judulnya udah kaya pro aja buat pizzanya.
Jadi ini bermula saat teman-teman di fb memasang foto pizza hasil buatan mereka yang sukses membuat saya penasaran,  banyak yang buat kok pasti nggak susah.

Lalu berlanjut tanya-tanya uncle google resep dan cara membuat pizza rumahan. Seperti biasa kalau cari di google pasti akan ketemu resep yang beraneka ragam,  dan yang pasti ada yang cocok di lidah ada yang nggak cocok.  Tapi namanya baru pertama ya sudah coba aja dulu ya....

resep roti
250 g terigu
3 sdm minyak goreng
3 sdm gula pasir
garam secukupnya
1 sdm ragi
air es secukupnya

Bahan toping sekaligus saos
200 g daging giling
1 buah bawang putih di geprek
1 buah  bawang bombay potong kecil kecil
1 buah tomat potong kecil kecil
Minyak goreng secukupnya
Garam,  gula,  royco (minus oregano)

Cara membuatnya tidak saya cantumkan ya, karena menurut saya hasilnya kurang mantap,  rotinya terlalu manis,  dan topingnya kurang asin. Selain itu rotinya saya buat terlalu tebal. Meski saya bilang pizza ini produk setengah gagal ternyata peminatnya (suami,  anak,  dan keponakan) kelihatan antusias sekali.  Sebentar aja sudah habis.

Dan.... buat saya kalau praktik masak ini itu banyak yang suka (banyak =keluarga) itu rasanya gimanaaaa gitu ๐Ÿ˜


Akhirnya di hari yang sama, sorenya saya membuat lagi si pizza home made ini.  Berbekal hasil pagi tadi saya sudah menyiapkan jurus2 untuk meningkatkan cita rasa si pizza #eeeeaa
Jurusnya adalah roti ditipisin daging diasinin keju di banyakin dan hasilnya wow keasinan ๐Ÿ˜ต Hadeuh tau kan kalau sore ruh stamina sudah turun badan mulai logo,  mencoba hasil pizzanya rasanya jadi desperado sambil marah dalam hati 'malas bikin lagi', cengeng dot com.


Tapi ternyata ya yang kita anggap gagal tuh belum tentu gagal 100%....begitu suami dan anak ngumpul di rumah, di tambah beberapa saudara lain,  sebentar saja pizza 'gagal maning gagal maning' ini  habis ludes tak ada sisa lagi.

Dan bisa di tebak kan semangat saya membuat pizza berkobar lagi,  tapi saya mulai dari awal lagi cari resep dari sumber yang terpercaya.

Lanjut di pizza maker part 2 ya.....

Sabtu, 29 Oktober 2016

PLPG kakak...

PLPG alias Pendidikan & Latihan Profesi Guru, pasti ditunggu-tunggu oleh guru-guru yang belum sertifikasi. Kenapa? Ha..ha...sepertinya semua sudah tau ya, kalau sudah lulus PLPG dan UTN, guru akan dapat setifikat, lalu dapat tunjangan sertifikasi. Kalau nggak salah untuk PNS besarnya 1 kali gaji pokok, kalau guru swasta 1,5 juta bagi yang belum inpassing, sedangkan yang sudah inpassing (penyesuaian golongan) akan sama dengan PNS.

Sebenarnya siy nggak masalah kalau pemerintah membedakan besarnya tunjangan serifikasi guru swasta yang belum inpassing, mungkin mereka belum yakin dengan kompetensi guru swasta. Tapi mbok ya buat proses inpassingnya yang transparan. Ada dua guru di tempat kami yang sudah beberapa tahun mengurus inpassing kebingungan dan sampai saat ini belum ada hasil apa-apa. yah gitulah nasib guru swasta...halah jadi curcol

Ok kembali lagi ke 'jalan yang benar', yaitu cerita PLPG yang saya jalani.
Sebelum masuk PLPG tentunya ada beberapa tahapan yang harus dilewati dong ya...nah ini tahapan yang saya lewati.

  1. Selalu cari info tentang sertifikasi guru, kebetulan Dikdas Jakarta Timur memiliki blog berisi info-info dari dinas. Hari Jumat, 1 April 2016 ada edaran tentang pemberkasan calon peserta PLPG dan SG-PPG. Kalau mau lihat surat edarannya ada disini.
  2. Selanjutnya masih ada melengkapi pemberkasan yang infonya juga di dapat dari blog ini, dan biasanya waktu dari hari pengumuman dengan batas akhir melengkapi berkas sangat mepet. Jadi....supaya jangan terlewat pengumumannya minimal sehari harus buka blog ini 3x, pagi siang dan malam hari. Eaaa...seperti waktu makan sehari 3x, yah...namanya juga usaha harus rajin dong ya.
  3. Setelah itu menunggu waktu seleksi calon peserta PLPG yang bisa ikut sesuai kuota. Sambil tetap rajin membuka sergur.kemdiknas.go.id dan blog dinas Jaktim.
  4. Rabu 5 Oktober 2016, akhirnya ada info pengambilan form A1 dari dinas. DI pengumuman itu ada daftar nama peserta yang bisa cetak form A1 dan syarat yang harus di bawa. Yang mau tau syaratnya bisa lihat disini
  5. Masih harus rajin memantau info dari web LPTK tempat kita bernaung kalau di UHAMKA webnya rayon137.uhamka.ac.id
  6. Sampai akhirnya nama saya muncul di peserta PLPG tahap 2.
Daaan.....perjalanan PLPG dimulai kakak :)

Update (terlambat sangat ya...)
Selama 10 hari PLPG di Graha Insan Cita, saya belajar materi profesional dan pedagogik, sayangnya materi yang segambreng itu dipadatkan dalam waktu yang pendek, bisa ditebak yang nyangkut di otak berapa persen, tapi lumayan daripada nggak nambah ilmunya. Meski rempong tapi sensasi belajar/sekolah/kuliah dikala umur nggak muda lagi rasanya menyenangkan, karena sadar ilmunya betul2 diperlukan
gini nih gaya belajar guru2 sains plpg2-2016


Diakhir PLPG ada 3 kali tes, yang pertama peer teaching (pakai alat peraga dong ya), UTL alias ujian tulis lokal seingatku sih semua soal tentang pedagogik, lanjut UTN alias ujian tulis nasional seperti UKG modelnya CBT. Kebetulan nilai UKG saya diatas 80 jadi nggak perlu ikut UTN.
Sebelum UTL, pakai putih hitam






Tanggal 4 Januari 2017 akhirnya muncul pengumuman kelulusan PLPG infonya di dapat dari web Uhamka, puji Tuhan sempet deg-degan karena sinyal naik turun nama saya susah banget loadingnya. Mama sampai bilang 'dien stress ya' gara2 lihat saya nyeruput es jeruk cepet banget sampai hampir habis padahal baksonya belum datang. Maklum saat pengumuman keluar kami sekeluarga sedang makan di bakso seuseupan Bogor.  Puji Tuhan nama saya akhirnya muncul juga, sedihnya dari 40an peserta dikelas kita hanya sekitar 9 peserta yang lolos, 8 diantaranya tidak ikut UTN. Teman2 ini nanti harus ikut UTN ulang.

Tanggal 7 April 2017, peserta yang lulus mengambil sertifikat di kampus Uhamka.

Sekarang 1 Mei 2017 saya masih menunggu kabar kapan cairnya dan bagaimana kabar kelanjutan inpassing yang katanya akan dikumpulkan lagi guru-guru yang belum inpassing. Sabar aja deh ya :)